Senin, 14 Januari 2008

ANOREXIA NERVOSA

Apakah kalian suka diet supaya tubuh tetap langsing ? Tiba-tiba jadi alergi sama yang namanya coklat, es krim dan makanan-makanan kalori tinggi. Kemudian jadi takut untuk makan karena khawatir berat badan bakalan naik sehingga seharian penuh cukup hanya dengan beberapa sendok nasi. Hati-hati lho, karena kalau diet yang dilakukan tidak wajar lagi malahan akan jadi berbahaya. Tahu film Ally Mc Beal, khan? Konon katanya si pemeran utama film ini alias Callista Flockshart melakukan diet keras sampai akhirnya menderita penyakit anoreksia. Lady Di yang cantik dan langsing itu pun ternyata mengalami masalah makan. Ia sering sekali memuntahkan makanannya sehabis menyantap berbagai macam hidangan. Masalah makan yang dialami oleh Lady Di tersebut disebut dengan bulimia.

Itu hanya sekedar contoh dari ratusan (atau mungkin ribuan) kasus tentang masalah makan yang dialami oleh beberapa orang. Sebenarnya, tanpa kita sadari ternyata teman, sehabat atau jangan-jangan kita sendiri ternyata mengalami kasus serupa. Apa sih anoreksia atau bulimia itu dan kenapa seseorang bisa mengalami hal-hal tersebut.

Anorexia Nervosa

Gangguan makan yang umumnya ditemui pada remaja putri adalah anoreksia atau istilah kerennya dikenal dengan anorexia nervosa. Anoreksia adalah aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja dan melalui kontrol yang ketat. Penderita anoreksia sadar bahwa mereka merasa lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka karena bisa berakibat naiknya berat badan. Persepsi mereka terhadap rasa kenyang terganggu sehingga pada saat mereka mengkonsumsi sejumlah makanan dalam porsi kecil sekalipun, mereka akan segera merasa ‘penuh’ atau bahkan mual. Mereka terus menerus melakukan diet mati-matian untuk mencapai tubuh yang kurus. Pada akhirnya kondisi ini bisa menimbulkan efek yang berbahaya yaitu kematian si penderita. Bayangkan saja, kalau mereka terus menerus menahan diri untuk tidak makan, darimana mereka memperoleh energi untuk hidup.

Bulimia

Jika penderita anoreksia mati-matian untuk menahan rasa lapar dan berupaya sekeras mungkin untuk tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar sehingga bisa tahan ‘hidup’ hanya dengan makan 2-3 sendok nasi per-hari, maka tidak demikian halnya dengan bulimia. Pada dasarnya, tujuan akhir dari penderita bulimia dan anoreksia adalah sama, yaitu ingin mempertahankan bentuk tubuhnya selangsing (sekurus) mungkin namun cara mereka yang berbeda. Penderita bulimia cenderung senang mengkonsumsi makanan yang mereka sukai. Mereka makan berlebihan untuk memuasakan keinginan mereka namun selanjutnya mereka memuntahkannya kembali hingga tidak ada makanan yang tersisa. Dengan demikian mereka terhindar jadi gemuk melainkan tetap menjadi kurus tanpa perlu menahan keinginan mereka untuk makan. Dapat dibayangkan jika seseorang terus menerus memuntahkan makanan yang mereka konsumsi, darimana mereka mendapatkan kalori untuk beraktivitas. Tubuhpun menjadi lemas, sulit untuk berpikir dan akhirnya tidak ada lagi energi yang dapat digunakan untuk mempertahankan dirinya.

Mengapa Bisa Terjadi?

Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan mereka. Terjadi perubahan fisiologis tubuh yang kadangkala mengganggu. Biasanya, hal ini lebih sering dialami oleh remaja putri daripada remaja pria. Bagi remaja putri, mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga mereka akan mudah untuk gemuk apabila mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Kalau dulu makan apapun tidak berefek bagi berat badan, tapi setelah masa pubertas (biasanya ditandai dengan menstruasi), baru makan coklat dua potong, kok beratnya sudah tambah 1 kg. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena mereka beranggapan bahwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses dan populer. Apalagi kalau melihat ‘body’ para selebritis yang langsing (sebenarnya lebih tepat dikatakan kurus-ceking- tiada berisi) sehingga kalau pakai baju model apapun terlihat pas dan pantas dipakai. Sementara kalau tubuh kita gendut, pakai baju apapun rasanya seperti sedang memakai karung terigu. Akhirnya, lingkungan sekitar juga ikut mempengaruhi. Semakin sering diledek ‘gendut’ maka dietnya semakin gencar. Maka tidak mengherankan bila ketidakpuasan seseorang dengan tubuhnya akan mengembangkan masalah pada gangguan makan.

Remaja dengan gangguan makan seperti di atas memiliki masalah dengan body imagenya. Artinya, mereka sudah memiliki suatu mind set (pemikiran yang sudah ter’patri’ di otak) bahwa tubuh mereka tidak ideal. Mereka mempersepsikan tubuhnya gemuk, banyak lemak di sana sini, tidak seksi dan lain-lain yang intinya tidak sedap untuk dipandang dan tidak semenarik tubuh orang lain. Akibat pemikiran yang sudah ter’patri’ ini, seorang remaja akan selalu melihat tubuh mereka terkesan gemuk padahal kenyataannya justru berat badan mereka semakin turun hingga akhirnya mereka menjadi sangat kurus. Mereka akan dihantui perasaan bersalah manakala mereka makan banyak karena hal itu akan menyebabkan berat badannya naik.

Masalah "body" ini akhirnya menyebabkan remaja menjadi tidak percaya diri dan sulit untuk menerima kondisi dirinya. Mereka beranggapan bahwa kepercayaan diri akan tumbuh kalau mereka juga memiliki tubuh yang sempurna (sempurna disini adalah ; kurus).

Apakah Dampak yang Ditimbulkannya?

Beberapa penderita anoreksia dan bulimia dapat menurunkan berat badannya antara 25 – 50 % dari berat badan mereka. Jika gangguan ini, baik anoreksia maupun bulimia tidak segera tertangani, maka dapat membawa dampak masalah baik secara fisik maupun psikis yang serius, bahkan kasus yang terparah bisa sampai menyebabkan kematian

Dampak fisik yang umumnya terjadi pada mereka :

  • Kehilangan selera makan, hingga tidak mau mengkonsumsi makanan apapun

  • Luka pada tenggorokan dan infeksi saluran pencernaan akibat terlalu sering memuntahkan makanan

  • Lemah, tidak bertenaga

  • Sulit berkonsentrasi

  • Gangguan menstruasi

  • Kematian

Dampak fisik secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang, sehingga masalah psikologis yang muncul pada mereka adalah :

  • Perasaan tidak berharga
  • Sensitif, mudah tersinggung, mudah marah
  • Mudah merasa bersalah
  • Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak
  • Cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya
  • Minta perhatian orang lain
  • Depresi (sedih terus menerus)

Dampak fisik maupun psikis yang dialami oleh penderita gangguan makan tersebut tentu saja tidak dapat diabaikan begitu saja. Mereka memerlukan pertolongan segera dari psikolog, dokter, ahli gizi, dan tentu saja orangtua untuk memulihkan masalahnya agar tidak membawa dampak yang lebih serius lagi, yaitu kematian.

Bagaimana Mendapatkan Tubuh yang Ideal?

Kita perlu mengkaji kembali apa artinya tubuh ideal. Apakah memiliki tubuh yang kurus, langsing atau seksi menurut gambaran masyarakat ? Rasanya tidak ada yang lebih ideal dibandingkan dengan memiliki tubuh yang SEHAT. Buat apa kurus, langsing dan seksi kalau pada kenyataannya kita menyiksa diri dan akhirnya malah sakit. Namun, menjadi tidak baik pula kalau akhirnya kita memanjakan diri kita dengan aneka makanan hingga akhirnya berat badan kita berlebih dan malah beresiko tinggi untuk terkena penyakit. Oleh sebab itu, lebih baik mengatur pola makan yang seimbang agar dapat mencapai tubuh yang ideal (yaitu : sehat).

Jika remaja ingin mendapatkan tubuh yang sehat (kurus tapi tetap fit atau gemuk tapi tetap lincah dan segar), maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan :

  • Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan pola makanan yang seimbang

  • Olah raga yang teratur

  • Tidur secukupnya

  • Tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak perlu (seperti: obat/ jamu pelangsing, obat tidur, narkoba, dll)

  • Don’t worry be happy

Kesulitan Menulis Skripsi

Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi yang sedang menyusun skripsi. Pada saat ini saya sedang dilanda kebingungan sebab belum tahu topik apa yang harus saya tulis. Setiap kali saya ingin memulai saya tidak tahu harus mulai dari mana dan saya merasa malas sekali. Sekarang ini saya bahkan jadi segan ke kampus karena takut ditanya oleh teman-teman dan dosen pembimbing. Gimana dong caranya supaya saya bisa menyelesaikan skripsi?

Pertanyaan di atas adalah salah satu contoh kasus yang banyak ditanyakan oleh para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada rubrik ruang konseling di website ini. Masalah diatas mungkin mewakili ribuan mahasiswa yang memiliki kesulitan dalam penyusunan skripsi mereka. Kesulitan lain yang seringkali dialami diantaranya kesulitan mencari judul untuk skripsi, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, atau takut menemui dosen pembimbing. Kesulitan–kesulitan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan: stress, rendah diri, frustrasi, kehilangan motivasi, menunda penyusunan skripsi dan bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menyelesaikan skripsinya. Kondisi ini banyak menimpa mahasiswa di semua fakultas dan jurusan, termasuk mahasiswa fakultas Psikologi. Hal ini tentu saja sangat merugikan mahasiswa yang bersangkutan mengingat bahwa skripsi merupakan tahap paling akhir dan paling menentukan dalam mencapai gelar sarjana. Selain itu usaha dan kerja keras yang telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya menjadi sia-sia jika mahasiswa gagal menyelesaikan skripsi. Pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana menyiasati hal tersebut sehingga para mahasiswa ini dapat segera mulai menulis, tidak kehilangan motivasi dan segera dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya.

Dalam artikel ini penulis mencoba untuk mengemukakan beberapa cara untuk menangani permasalahan-permasalahan yang seringkali dialami mahasiswa seperti yang tersebut diatas. Berikut ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna untuk diikuti jika anda termasuk dalam kategori mahasiswa yang mengalami masalah dalam penyusunan skripsi:

Perencanaan yang Matang

Dalam melakukan setiap kegiatan biasakan untuk merancang suatu rencana secara matang. Dengan perencanaan yang matang diharapkan tujuan akan lebih mudah dicapai. Hersey dan Blanchard (1995) mengatakan perencanaan adalah penyusunan tujuan dan sasaran serta penyusunan peta kerja yang memperlihatkan cara pencapaian tujuan dan sasaran.
Peta kegiatan yang di buat harus dilaksanakan dengan disiplin, karena bila terlalu memberi toleransi pada diri sendiri maka semua yang ada di peta tersebut akan sia-sia. Sedangkan hal yang masih boleh ditoleransi adalah bila berhubungan dengan dosen pembimbing dan hal yang berhubungan dengan pengurusan surat-surat keterangan.

Motivasi Diri Anda
Mengapa motivasi penting? Untuk menjelaskannya kita dapat memakai teori dasar dari motivasi yang dikemukakan oleh Vroom (Dunnet, 1990) bahwa Prestasi (P) merupakan hasil dari Motivasi (M) dan Kemampuan/Ability (A) dengan model sebagai berikut P = M x A. Dengan model ini maka bila ada dua orang dengan kemampuan yang sama mengerjakan suatu tugas yang sama pula maka hasilnya bisa sangat berbeda. Misalkan Amir dan Budi sama-sama memiliki kemampuan 100, tetapi Amir memiliki motivasi 1 sedang budi memiliki motivasi 3 maka sesuai model diatas prestasi Amir hanya 100 sedangkan Budi 300. Terlihatlah sekarang betapa motivasi sangat berperan bagi prestasi seseorang.
Untuk memotivasi diri tampaknya salah satu kalimat dalam suatu iklan produk yang berbunyi "Ayo kamu bisa", harus selalu menjadi pegangan anda. Berkatalah pada diri sendiri "Saya pasti bisa, karena saya mampu". Jangan anggap remeh kemampuan diri anda. Anda adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Waktu anda sangat banyak, gunakan dengan efektif dan efisien. Dalam 1 minggu ada 7 hari, dalam 1 hari ada 24 jam. Bila anda mengganggap waktu anda sempit, anda salah! Salah besar. Waktu anda dijadwalkan dengan batas waktu yang anda tentukan sendiri, jangan sampai waktu anda "terpaksa" di batasi oleh fakultas, karena masa studi anda sudah hampir habis.

Mulai hari ini cobalah memotivasi diri anda sejak anda berada di rumah. Buatlah diri anda berharga dan berbahagia. Bawalah kebahagian itu kemana anda berada, baik ke kampus, ke kantor atau ke lingkungan manapun juga. Tapi bagaimana caranya? Itukah yang anda tanyakan! Menurut DePorter dan Hernacki (2001), sebelum anda melakukan hampir semua aktivitas dalam hidup anda, baik secara sadar maupun tidak, anda akan bertanya pada diri anda tentang “Apa manfaat ini bagiku?”. Pertanyaan “apa manfaatnya bagiku” tersebut terus anda tanyakan pada diri anda sepanjang hari untuk memilih alternatif-alternatif aktivitas yang akan anda lakukan.

Untuk lebih jelas dapat anda bayangkan hal berikut ini : setiap pagi hari biasanya anda bangun tidur kemudian sembahyang subuh kemudian tidur lagi. Tetapi seharusnya akan lebih sehat bila anda bangun pagi sembahyang subuh kemudian berolahraga pagi. Anda harus menimbang kedua hal tersebut dengan menanyakan “apa manfaatnya bagiku?”. Bila anda pilih tidur lagi, ada kemungkinan anda terlambat dalam perkuliahan karena anda bangun kesiangan. Bila anda memilih berolahraga pagi, badan anda terasa segar dan sehat dan andapun dapat berangkat ke kampus tepat waktu.

Dalam banyak situasi menemukan “ apa manfaatnya bagiku” sama saja dengan menciptakan minat terhadap sesuatu yang akan kita kerjakan (DePorter & Hernacki, 2001). Untuk beberapa hal mungkin mudah sekali kita tertarik dan berminat melakukannya namun ada juga hal-hal yang harus dipaksa terlebih dahulu sebelum kita tertarik untuk mengerjakannya. Namun demikian, sesulit apapun sesuatu yang harus anda lakukan, anda selalu dapat menemukan sesuatu hal menarik yang dapat memberikan motivasi bagi diri anda. Paling penting bagi anda adalah bahwa anda sudah termotivasi untuk mempelajari suatu hal/informasi baru karena beberapa alasan. Hal inilah yang dapat membantu anda untuk menyelesaikan penulisan skripsi anda. Pada saat anda sudah termotivasi maka segala sesuatu akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Sedangkan rasa bosan dan malas dengan sendirinya akan musnah, bila anda sudah termotivasi dengan baik (istilah kerennya: motivasi menulis skripsi sudah terinternalisasi).

Fokus Pada Materi

Sebelum mulai menulis cobalah anda tanyakan pada diri sendiri: "Bidang apa dalam Psikologi yang sesuai dengan selera saya; Klinis, Perkembangan, Sosial, Olahraga, Pendidikan, Industri dan Organisasi atau ....?". Selanjutnya tentukan pilihan anda dan mulailah memilih topik yang sederhana dan gampang untuk mencari sumber bacaan atau informasi. Jangan menulis suatu topik yang terlalu luas, usahakan fokus pada satu permasalahan dan anda harus dapat membuat batasan secara jelas. Permasalahan yang dirumuskan haruslah logis dan terdukung oleh literatur dan bahan bacaan yang memadai. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata, Guru besar fakultas Psikologi UGM, bahwa untuk jenjang Strata 1 (S1) bentuk penulisan jangan terlalu sulit, cukup membuktikan hubungan dua variabel atau perbedaan suatu variabel. Dengan perkataan lain, janganlah anda mempersulit diri dengan memilih topik yang hebat-hebat atau heboh padahal anda tidak yakin bahwa anda menguasai materi tersebut, dan jangan terlalu idealis bila anda ingin menyelesaikan skripsi dengan cepat dan tepat waktu. Namun demikian tidak berarti bahwa skripsi boleh dibuat ala kadarnya. Sebagai orang berpendidikan anda juga harus sadar bawa skripsi yang anda hasilkan harus memiliki nilai akademis dan manfaat bagi siapapun yang berkepentingan terhadap skripsi tersebut.

Langkah awal yang terpenting untuk diingat dalam penulisan suatu penelitian ilmiah (Skripsi) adalah kemampuan anda untuk membuat rumusan permasalahan, tujuan penelitian dan manfaat penelitian tersebut. Semua itu harus memiliki landasan teori yang mendasar dan didukung argumen logis dari penulis. Tanpa itu mustahil dapat disetujui oleh dosen pembimbing.

Tingkatkan Kemampuan Sosialisasi

Dalam menyusun skripsi, menulis bukanlah kemampuan satu-satunya yang harus dikuasai, karena kemampuan sosialisasi memiliki porsi yang cukup vital. Rasa takut untuk menemui dosen pembimbing adalah salah satu cerminan kemampuan sosialisasi yang buruk. Rasa takut ini harus dibuang jauh-jauh dengan memulai dari diri sendiri dengan cara paling sederhana seperi menjaga penampilan fisik dan bersopan santun. Terkadang mahasiswa tidak percaya diri karena penampilan fisik yang tidak layak bagi seorang mahasiswa seperti memakai celana jeans robek, tidak memakai sepatu, rambut gondrong dan dikucir, dan hal lain yang menjadi kebiasaaan buruk dalam penampilan sehari-hari. Bagi sebagian mahasiswa mungkin tidak akan ada masalah jika berhadapan dengan mahasiswa lain atau teman-temannya, tetapi jika berhadapan langsung dengan dosen pembimbing, seringkali mereka menjadi tidak percaya diri. Nah bagi anda yang merasa bahwa penampilan anda kurang oke, cobalah segera memperbaikinya. Bila anda sudah dapat memperbaiki penampilan maka rasa percaya diri akan tumbuh lebih baik.

Selain itu rasa takut muncul lebih besar dikarenakan cerita-cerita dari kakak-kakak senior tentang dosen pembimbing yang killer. Untuk hal ini, sebaiknya anda jangan sekali-kali percaya begitu saja, buktikan terlebih dahulu, karena terkadang reaksi dosen menjadi killer adalah karena sikap mahasiswa yang kurang santun dan tidak memperhatikan situasi dan kondisi. Terlebih lagi bagi anda mahasiswa psikologi yang diharapkan lebih dapat bersikap yang lebih baik dibanding dengan mahasiswa fakultas lain. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan anda harus dapat memahami kapan waktu dan kondisi yang tepat untuk bertemu dosen pembimbing. Bila perlu cobalah anda pelajari kepribadian dosen pembimbing anda sehingga anda tahu persis bagaimana membina hubungan yang baik demi kelancaran proses penulisan skripsi anda.

Mulai Sekarang Juga

“Inilah saatnya”, jangan menunggu, anda harus mulai mencari literatur sedini mungkin. Saat ini juga baca sebanyak mungkin literatur yang anda suka, kemudian rumuskan menjadi variabel yang siap dituliskan di skripsi anda. Datangi seluruh perpustakaan yang ada, toko buku dan pedagang buku bekas untuk mencari bahan-bahan yang anda butuhkan. Jelajahi juga website-website yang menyediakan informasi yang anda butuhkan. Baca juga ensiklopedia elektronik seperti Encarta, Grolier, Britanica atau yang lainnya.

Segeralah lengkapi diri anda dengan buku penuntun penulisan skripsi yang biasanya diterbitkan oleh fakultas, atau bagi anda mahasiswa fakultas Psikologi, anda dapat membaca dan mengikuti ketentuan penulisan karya ilmiah dari APA (American Psychologist Association). Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mencatat dengan lengkap nama pengarang, tahun terbit, judul buku, penerbit serta halaman dari kutipan yang anda baca. Mengingat bahwa hal-hal tersebut sangat vital, usahakan anda dapat memperoleh copy dari tulisan yang anda kutip.

Begitu data/informasi sudah terkumpul,maka anda harus segera menyusun tulisan berdasarkan bahan yang ada dan memformulasikannya menjadi sebuah proposal yang kemudian diajukan ke fakultas. Jangan pernah menunda untuk menyusun proposal skripsi, sebab sekali tertunda maka akan membutuhkan waktu yang lama bagi anda untuk mulai mengerjakannya kembali. Oleh karena itu, MULAILAH SEKARANG JUGA! Selamat mencoba, semoga sukses.


Pengertian Kerja Cerdas

Menjadi Lebih Produktif

Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar istilah kerja cerdas? Ada yang mengartikan bahwa kerja cerdas itu adalah sebuah model kerja di mana seseorang melakukan pekerjaan sedikit tapi hasilnya besar. Berangkat kerja tanpa terikat pada aturan atau jam kerja formal atau berbisnis jarang-jarang tetapi sekali mendapatkan untung, untungnya cukup untuk dinikmati berbulan-bulan atau cukup untuk sekian minggu ke depan.

Orang yang berpendapat demikian mungkin menganut teori Paretto yang 80/20 itu (The law of imbalance). Kalau merujuk teori ini, berarti 80 % penghasilan orang itu dihasilkan dari 20 % aktivitas kerja / bisnisnya. Aktivitasnya hanya 20 % tapi penghasilannya 80 %. Mungkin, karena orang seperti itu sudah lihai dalam membidik peluang, maka terwujudlah kerja cerdas dalam pengertian seperti di atas.

Terus terang, meski pengertian di atas sering saya dengar dalam pembicaraan, tetapi dalam prakteknya masih jarang saya lihat. Saya tidak tahu apakah Anda juga punya pengalaman seperti saya atau tidak. Yang kerap kita jumpai, kalau ada orang yang mendapatkan hasil banyak, orang itu juga bekerja banyak. Konon, Bill Gate yang dikenal orang pintar dan orang kaya, punya jam kerja yang jauh lebih banyak dibanding dengan karyawannya. Cuma bedanya, Bill Gate tidak merasakan pekerjaannya sebagai tekanan yang membebani.

Tak hanya Bill Gate saja. Di beberapa stasiun teve sekarang ini kerap ditayangkan sukses stori para pengusaha lokal, baik UKM atau Non-UKM. Sejauh saya mengikuti sampai saat ini memang saya belum pernah mendengar dari mereka yang mengatakan bahwa prestasi usahanya itu diciptakan dari model kerja cerdas dalam pengertian di atas. Yang sering mereka katakan justru adalah prinsip mendasar yang umumnya sudah diketahui banyak orang, misalnya: jujur, disiplin, bekerja keras, menjaga kepercayaan, dan semisalnya.

Terlepas apapun orang mengartikan kerja cerdas, tapi di sini kita akan membahas kerja cerdas dalam pengertian: bagaimana kita bisa menjadi lebih produktif dengan alokasi waktu kerja yang sama atau dengan menggunakan peralatan yang sama. Atau dalam pengertian: bagaimana kita bisa memproduksi solusi (barang atau jasa) yang lebih banyak atau lebih cepat dalam waktu yang sama dengan menggunakan peralatan yang sudah kita miliki.

Mungkin contoh beratnya bisa kita ambil dari hasil kerja Frederick W. Taylor pada tahun 1911. Seperti yang sudah jamak diketahui, Taylor adalah seorang insinyur yang bekerja di pabrik. Taylor tidak puas dengan produktivitas para pekerja yang sangat rendah kala itu. Melihat keadaan seperti itu, Taylor menawarkan revolusi mental yang kemudian dikenal dengan 4 prinsip manajemen.

Sebagai bahan perbandingan buat kita, Taylor menawarkan solusi antara lain:

a) Mengembangkan metode, konsep, atau ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan pekerjaan dari pekerjaan itu atau memunculkan teori aplikasi yang terbaik dari pekerjaan yang dilakukan

b) Memilih dan melatih para pekerja dengan pertimbangan dan keputusan yang logis,

c) Menciptakan komunikasi yang sinergis antara manajemen dan pekerja

d) Pembagian kerja dan tanggung jawab yang tegas.

Berdasarkan kondisi dan situasi kontekstual kala itu, konon revolusi mental yang ditawarkan Taylor ini berhasil meningkatkan produktivitas pekerja sampai mencapai 200 %. Menggiurkan, bukan? Atas keberhasilan yang dicapai, Taylor kemudian diberi gelar Bapak Manajemen Ilmiah.

Contoh yang ringan bisa kita ambil dari kebiasaan sehari-hari. Ketika bicara produktivitas, pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan target di kepalanya dan orang yang bekerja tanpa ada target di kepalanya. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan mengembangkan tehnik dan orang yang bekerja dengan tanpa mengembangkan tehnik. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dalam keadaan marah dan orang yang bekerja dalam keadaan happy. Pasti berbeda antara orang yang bekerja berdasarkan prioritas dan orang yang bekerja asal-asalan. Pasti berbeda antara orang yang bekerja dengan konsep dan orang yang bekerja tanpa konsep. Bahkan terkadang ada bedanya antara kita bekerja dengan menelpon orang lebih dulu dan bekerja lebih dulu baru menelpon orang. Ini contoh riil yang kita alami sehari-hari.

Intinya, seperti kata orang bijak, di semua pekerjaan di dunia ini ada rahasia Tuhan. Rahasia itu jika semakin kita gali tidak berarti semakin habis. Justru rahasia itu semakin bertambah. Bahkan rahasia itu tidak akan habis ditulis dengan tinta air laut. Ini terjadi dari mulai bagaimana seorang pelayan diskotik menuangkan minuman dari botol ke gelas dengan gayanya yang khas sampai ke bagaimana seorang arsitek merancang bangunan bertingkat. Tugas kita adalah sebetulnya menggali rahasia-rahasia itu sehingga kita bisa selalu meningkatkan produktivitas.

Dengan bertambahnya kemampuan untuk memproduksi solusi yang lebih besar dan lebih cepat, maka secara logis ini akan meningkatkan penghasilan kita. Soal berapa persennya dan kapan peningkatan hasil itu akan terwujud, ini urusan tehnis. Tapi prinsipnya kira-kira begitu.

Syarat menjadi lebih produktif

Beberapa syarat mental di bawah ini sebenarnya adalah tambahan dari yang sudah kita miliki berdasarkan pengalaman sehari-hari. Atau bahkan mungkin sebatas sebagai reminder (pengingat) atas hal-hal mendasar yang kerap kita lupakan dalam praktek. Nah, syarat mental yang perlu kita miliki untuk mencapai kerja cerdas dalam pengertian yang kita bahas di sini adalah:

Mengembangkan standar prestasi yang pas

Pas di sini artinya memiliki standar yang match atau sesuai dengan perkembangan kita hari ini. Seperti yang kita alami, jika standar yang kita patok itu terlalu rendah, biasanya produktivitas kita juga rendah. Tapi, jika terlalu tinggi atau terlalu banyak, biasanya malah bingung atau malah sedikit hasilnya. Karena itu ada yang menyarankan, little is more and more is little.

Dengan kata lain, supaya tetap produktif, berarti kita perlu memberi standar yang benar-benar pas dengan dinamika perkembangan kita. Jangan terlalu rendah atau jangan terlalu sedikit. Tapi, jangan juga terlalu tinggi atau jangan terlalu banyak.

Mengasah kreativitas

Kreatif atau tidak kreatif, pada akhirnya adalah masalah manajemen batin. Suasana atau fasilitas memang mendukung kreativitas, tapi jika batin ini tidak kreatif, fasilitas dan suasana itu tidak ada gunanya. Mengasah kreativitas ini bisa kita lakukan dengan menyediakan ruang untuk menemukan berbagai kemungkinan untuk menciptakan metode, cara atau tehnik baru yang lebih efektif dan lebih efisien dan yang membuat kita menjadi lebih produktif.

Soal apa bentuknya, bagaimana caranya dan lain-lain, ini urusan kita masing-masing. Ini mengingat, biasanya, the best tehnique is always not in the book. Tehnik, metode atau cara yang kita dapatkan dari orang lain atau dari buku, ini umumnya sebagai “an aid” atau bantuan buat kita untuk melakukan discovery atau eksplorasi.

Menajamkan fokus

Produktivitas sangat erat hubungannya dengan soal fokus. Fokus, karena itu merupakan kekuatan. Contoh sepele, misalnya: jika kita melihat benda di depan mata tetapi pikiran kita tidak fokus, maka produktivitas penglihatan kita juga tidak bagus. Ini terjadi sampai ke hal-hal yang sangat mendasar dalam hidup manusia.

Jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat masalah, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya adalah masalah. Sebaliknya, jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat peluang, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya tentang dunia ini adalah peluang. Meski awalnya ini adalah soal kesimpulan di batin, tetapi pada tahapan tertentu akan mempengaruhi tindakan dan produktivitasnya.

Saking eratnya hubungan antara produktivitas dan fokus, teori manajemen sampai mengajarkan kita untuk membagi aktivitas menjadi:

a) prioritas

b) penting

c) mendesak

d) distraksi

Jika kita gagal membedakan antara prioritas dan distraksi (aktivtas yang tidak prioritas, tidak penting dan tidak mendesak), pasti fokus pikiran kita kacau. Kalau sudah kacau, produktivitas kita pun akan terancam.



Menggali Tacit knowledge

Istilah Tacit Knowledge ini bisa kita jumpai di naskah kerja Robert J. Stenberg, pakar Psikologi di Yale University. Ini adalah semacam pengetahuan spesifik tentang sesuatu yang diperoleh seseorang dari praktek. Tacit Knowledge ini punya ciri khas antara lain:

Pengetahuan itu adalah sebuah prosedur di dalam diri seseorang tentang bagaimana sesuatu harus dikerjakan

Pengetauan itu merupakah buah dari melakukan sesuatu, bukan buah dari diajar orang lain

Pengetahuan itu bersifat sangat pribadi

Seorang sopir yang sudah berpengalaman, pasti memiliki prosedur batin tentang bagaimana menjalankan kendaraan yang diajarkan oleh pengalamannya. Prosedur batin itu biasanya tidak dimiliki oleh seoran sopir yang baru lulus dari sekolah montir. Kita sering menyebutnya dengan istilah “feeling” atau gerakan reflek, atau juga disebut beyond the technique.

Kaitannya dengan produktivitas di sini sangat jelas. Seorang sopir yang sudah bekerja dengan feeling tadi, pasti lebih produktif. Dia lebih tahan lama, lebih rileks, dan lebih cepat. Saya kira ilustrasi ini juga bisa kita terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Menjaga harmonitas

Seperti juga alam raya ini, hidup kita akan produktif kalau hormonitasnya terjaga, serasi atau seimbang. Belajar dari praktek hidup, mayoritas penyakit yang merupakan ancaman produktivitas, entah itu penyakit jiwa atau raga, mulanya muncul dari pengabaian kecil (ignorance) yang kemudian menimbulkan ketidakhamonisan, atau ketidakseimbangan ke hampir seluruh wilayah hidup.

Contohnya adalah kurang tidur. Ketika kita kurang tidur, yang terjadi bukan hanya kita butuh tidur di siang hari sebagai pengganti waktu tidur yang telah kita gunakan untuk yang lain. Kurang tidur yang sudah sampai pada tingkat overdosis, bisa menganggu hubungan kita dengan pekerjaan, dengan orang lain, dan seterusnya, yang akhirnya mengakibatkan produktivitas rendah.

Perlindungan batin

Batin di sini, tidak bisa kita samakan dengan emosi. Melindungi batin, bukanlah melindungi emosi. Kalau konteksnya produktivitas, batin kita perlu dilindungi dari kotoran yang menganggu produktivitas. Biasanya, kotoran itu adalah masalah yang kita ciptakan sendiri secara tidak sengaja atau masalah yang didatangkan orang lain untuk kita – yang tidak kita oleh menjadi vitamin batin. Maksudnya ? Kita sering mendengar ucapan, kritik atau pun pendapat orang lain yang tidak enak mengenai diri kita, cara kerja maupun hasil pekerjaan kita.

Kita bisa saja menganggapnya sebagai sampah yang mengotori batin dan harus dibuang, atau menanggapnya sebagai warning signal – atas sesuatu di dalam diri yang perlu kita renungkan. Kalau kita mau belajar dan bertumbuh, mata batin kita lah yang harus menangkap “kata-kata” yang ditujuan pada kita, bukan telinga kita. Mata batin, bisa melindungi kita dari self-denial (pengingkaran kenyataan diri). Kita bisa tutup telinga – tapi tidak bisa menutup mata batin. Kejernihan suara batin bisa menuntun kita bekerja cerdas, kalau kita mau mendengar tuntutannya.

Apa mungkin kita sanggup membersihkan batin dari masalah untuk sekedar menjadi lebih produktif? Kalau konteksnya praktek hidup, maksudnya yang lebih tepat bukanlah bersih dalam arti tidak ada masalah atau lari dari masalah. Selain mustahil, pun juga ini malah tidak produktif. Maksudnya adalah menyelesaikan masalah secara sehat, benar, jujur dan proporsional. Kalau kita proporsional dalam memikirkan, bersikap dan bertindak, maka produktivitas kita tidak terganggu dengan masalah yang ada.

Jika kita sedikit-sedikit sakit hati atau terlalu memasukkan hati ulah orang lain, dan tidak menjadikannya “obat pahit”, ini bisa mengganggu produktivitas. Batin kita akan bekerja untuk memikirkan orang lain dalam pengertian memikirkan yang tidak perlu, bukan memikirkan bagaimana memperbaiki dan mengembangkan diri, serta memproduksi solusi yang lebih banyak atau lebih cepat. Semoga bermanfaat !


Modal Utama Pencari Kerja

'Ketika sudah bicara mencari pekerjaan, sepertinya tidak ada kesimpulan yang “wah” atau “aduhai”. Sebagian besar kita punya kesimpulan yang “aduuuh”. Hanya sedikit dari sekian ribu angkatan kerja pertahun yang punya kesimpulan “aduhai”. Sampai-sampai ada guyonan banyak yang ijazahnya terbakar karena saking seringnya di-fotocopy untuk urusan melamar kerja.

Saking sulitnya mencari kerja itu hingga tidak sedikit yang akhirnya menyimpulkan bahwa mencari kerja ini adalah urusan nasib. Nasib di sini maksudnya adalah sebuah wilayah yang tak terjamahkan oleh prediksi. Mengapa pekerjaan itu sedemikian sulit ditemukan di negeri sendiri? Kalau melihat ke lapangan, ada sedikitnya dua hal yang perlu disadari:

1. Faktor eksternal.

Untuk mendapatkan pekerjaan yang “asal kerja” saja ini memang sulit, apalagi yang benar-benar sesuai dengan background pendidikan. Ini lebih sulit lagi. Sejumlah kesulitan itu disebabkan, antara lain:

§ Kondisi ekonomi secara makro sampai ke mikro.

§ Ketidakseimbangan pertumbuhan antara peluang kerja baru untuk lulusan baru dan jumlah lulusan baru (berlaku untuk daerah tertentu atau bidang tertentu)

§ Tingginya persyaratan yang ditetapkan perusahaan untuk tenaga baru

§ Tingginya biaya kerja ke luar negeri bagi yang punya keinginan ke sana

§ Jauhnya link-match antara yang diberikan lembaga pendidikan (supplier) dan yang diminta industri (demander)

§ Adanya KKN formal dan non-formal yang belum bisa dibersihkan secara tuntas dalam birokrasi swasta atau pemerintah untuk urusan penerimaan tenaga baru

§ Model persaingan yang tidak jelas sebagai akibat dari pemerataan pembangunan yang belum optimal dilakukan pemerintah

§ Lemahnya niat baik para pemilik peluang untuk menolong para pekerja baru (aturan normatif) atas nama sesama bangsa sendiri

§ Dan lain-lain dan seterusnya.

2. Faktor internal

Karena menghadapi kesulitan yang saking sulitnya dijabarkan dengan kata-kata dan logika itu, maka tak sedikit dari kita yang terungkap dalam kata-kata, misalnya: saya sudah frustasi, saya sudah putus asa, saya sudah tidak mau lagi nglamar-ngalamar kerja karena toh hasilnya sama, dan lain-lain.

Sadar atau tidak sadar, sebetulnya inilah masalah yang ada di dalam diri kita. Artinya, jika kita ternyata belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini padahal kita sudah lama diwisuda, maka yang ikut andil untuk menciptakan keadaan semacam ini bukan saja sulitnya mencari kerja di negeri sendiri, tetapi juga karena kita sudah malas-malasan, frustasi, sudah putus asa, dan semisalnya.

Kalau dijelaskan dengan logika perjuangan, maka masalah yang kedua ini yang lebih berbahaya. Kenapa? Sesulit apapun persoalan mencari kerja ini, namun kalau kita tetap mencari dengan kegigihan dan kemauan keras, maka (menurut “Teori Tuhannya”), kita PASTI akan mendapatkan pekerjaan. Soal ini cocok atau tidak menurut versi kita, soal itu kapan dan dimana, ini soal teknis orang hidup. Kita dituntut untuk pandai-pandai mempertimbangkannya.

Tetapi akan berbeda halnya ketika kita sudah tahu sedang menghadapi keadaan eksternal yang sulit ditambah lagi dengan respon (cara menghadapi) yang negatif. Bisa kita bayangkan sendiri. Keadaan eksternal yang mudah saja akan menjadi tidak mudah apabila ditanggapi secara negatif, apalagi keadaan yang sulit dihadapi dengan respon yang negatif. Sulitnya berlipat ganda, tentu.

Selain ada masalah mentalitas, masalah yang kerap muncul juga adalah soal keahlian teknis atau keahlian kerja. Keahlian kerja adalah jenis ilmu pengetahuan khusus yang bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Kalau kita hanya tahu akunting dari teori-teorinya, belum tentu ini bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di tempat kerja. Dunia kerja menuntut penguasaan teori dan praktek. Soal kadarnya berapa, ini yang akan berbicara nanti proses.

Dari berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya penguasaan teknis (keahlian kerja) yang dimiliki oleh angkatan kerja baru, ini tak hanya mempersulit calon pencari kerja saja, tetapi juga ikut mempersulit perusahaan pencari tenaga kerja (pemilik peluang). Sampai-sampai ada ungkapan: kalau sekedar ingin mencari orang yang mau kerja atau ingin kerja, ini jumlahnya berlebih. Tapi untuk mendapatkan orang yang mau dan mampu bekerja, ini jumlahnya selalu kurang. Karena itu, tak sedikit dari pemilik peluang yang berinisiatif untuk iklan meski harus bayar mahal.

Ini semua sebetulnya adalah masalah sudah kita ketahui. Mencari pekerjaan memang sulit. Karena itu, dibutuhkan usaha yang serius supaya bisa mendapatkannya. Cuma memang yang lebih sering terjadi, pengetahuan kita tentang sulitnya mencari pekerjaan itu kurang kita gunakan untuk mendorong kesadaran untuk menciptakan penyiasatan-penyiasatan yang kreatif guna mempercepat proses mendapatkan pekerjaan.

Butuh Strategi

Butuh Strategi

Penyiasatan yang perlu kita lakukan untuk mempercepat proses itu mencakup dua hal, yaitu: a) Strategi teknis, dan b) Strategi non-teknis. Di antara strategi teknis itu misalnya:

1. Perlu memperbaiki penulisan surat lamaran

Ada pengalaman sedikit yang mungkin bisa diajadikan pelajaran, yaitu soal mengisi formulir. Meski semua orang pada dasarnya bisa mengisi apa yang diminta dalam formulir tetapi prakteknya tidak sedikit dari kita yang tidak mau dan tidak mampu, katakanlah di sini misalnya tinggi dan berat badan, berkacatama atau tidak, dan lain-lain. Bagi kita mungkin ini tidak penting tetapi bagi para pengambil keputusan, bisa jadi ini penting. Ketika yang diminta itu kosong, pengambil keputusan biasanya tidak mau ambil pusing soal itu. Lain soal jika jumlah pelamarnya sedikit.

Itu contoh kecil. Maksud saya, meski yang kita butuhkan adalah pekerjaan, tetapi hendaknya kita juga perlu memperbaiki perantara atau instrumen yang berlaku untuk mendapatkan pekerjaan itu. Perantara yang sangat penting di sini adalah seperangkat surat lamaran yang berisi antara lain: surat lamaran, CV atau resume, ijasah, sertifikat, dan lain-lain.

Kita perlu sadar bahwa meski semua orang bisa menulis surat lamaran, tetapi soal kualitas fisik dan isinya bermacam-macam. Ada yang baik, menarik, dan OK punya, tetapi ada yang terkesan asal-asalan. Tugas kita di sini adalah memperbaiki tampilan fisiknya dan isinya. Untuk ini, ada banyak cara dan petunjuk. Anda bisa membaca artikel tentang ini di website ini, bisa melihat di buku, bisa mencontoh dari orang-orang yang anda kenal. Intinya, jangan sampai menimbulkan kesan asal-asalan atau tidak lengkap.

2. Perlu memperbanyak cara.

Dalam situasi yang sulit seperti ini, mungkin lebih tepat kalau kita menggunakan “Hukum Kemungkinan”. Artinya, semakin banyak cara yang kita tempuh, berarti semakin besar kemungkinannya. Semakin sedikit cara yang kita tempuh, berarti semakin kecil kemungkinannya. Sekedar untuk menyebutkan cara itu, misalnya: melalui iklan di media cetak, melalui iklan di media elektronik, on-line, melalui pameran, melalui orang (jaringan), atau melalui perusahaan.

Saya ingin memberi catatan sedikit tentang dua cara yang terakhir. Sejauh yang selama ini kerap kita lihat, melamar pekerjaan melalui orang atau jaringan memang jauh lebih efektif dan efisien. Terlepas di situ ada KKN-nya atau tidak, tetapi cara ini akan menempatkan kita menjadi orang “khusus”. Konon, di Amerika yang tidak seruwet di kita dalam hal mencari kerja, 60 % para pekerja mendapatkan pekerjaan dari networking atau dari mulut ke mulut.

Yang menjadi soal adalah, bagaimana cara mendapatkan orang yang menolong kita itu? Ada tip sedikit yang bisa kita jalankan. Pertama, cara langsung. Anda bisa menanyakan langsung kepada orang yang sudah anda kenal seputar lowongan pekerjaan. Kedua, cara yang tidak langsung. Anda bisa menanyakan soal lowongan dari orang yang dikenal oleh orang yang anda kenal. Ketiga, memperbaiki dan memperjelas profile.

Bagaimana dengan melalui perusahaan jasa rekrutmen atau konsultan? Ini juga bagus. Saya kira sekarang ini sudah mulai banyak perusahaan yang bergerak di bidang rekrutmen, seleksi dan penempatan. Ada yang bisa pakai on-line, pakai sms, atau datang langsung. Khusus untuk penempatan dalam negeri, biasanya pihak perusahaan tidak meminta yang macam-macam dari pelamar selain seperangkat surat lamaran. Lain soal untuk yang di luar negeri.

3. Perlu memperbanyak sasaran yang relevan.

Di era sekarang ini sudah banyak jenis usaha atau pekerjaan yang tidak ada sekolahnya atau yang tidak ada jurusannya, khususnya industri jasa. Karena itu, akan lebih tepat kalau kita tidak terpaku hanya melamar pekerjaan atau profesi yang sesuai dengan later belakang pendidikan. Asalkan ada keterkaitan dan anda tahu anda bisa, tidak ada salahnya juga anda mengajukan diri.

4. Perlu memperbanyak sumber informasi

Sebagian besar informasi lowongan kerja itu tidak ter-publikasikan ke umum. Yang kita baca di koran, di majalah, di tempat-tempat umum itu hanya sebagian kecilnya saja. Karena itu dibutuhkan kemampuan mencari informasi yang baik. Untuk memiliki kemampuan ini memang mau tidak mau harus banyak membaca, bertanya, bergaul, menyelidiki, atau masuk komunitas tertentu.

5. Perlu menambah keahlian yang supportive / yang relevan

Ini terkait dengan kecepatan. Kalau anda lulusan perhotelan dan anda juga punya penguasaan bahasa asing yang bagus, ini nilainya beda dengan ketika anda hanya tahu soal hotel. Akan lebih bagus lagi kalau anda juga tahu soal komputer, transportasi, dan lain-lain. Artinya, semakin banyak anda melengkapi keahlian utama dengan keahlian pendukung, semakin cepat anda mendapatkan pekerjaan. Langkah anda menjadi semakin luas. Inilah yang disebut dengan memperbaiki profile itu.

Yang tak kalah pentingnya di sini adalah memperkuat keimanan pada Tuhan. Ini salah satu masalah non-teknis yang perlu kita perbaiki. Keimanan terkait dengan sejauhmana kita sanggup melakukan upaya pencarian yang terus menerus sampai dapat.




Makna Belajar

"Untuk apa sekolah tinggi, toh akhirnya sama saja, bingung ke mana mencari pekerjaan yang cocok. Ijazah akademik tidak memberi jaminan identitas yang segagah gelarnya. Bahkan sudah tidak lagi bisa dihitung dengan jari jumlah kawan sesama sopir taksi yang bergelar sarjana. Bukankah hidup itu yang paling pokok adalah memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk menutup pengeluaran dan sisanya ditabung buat warisan, benarkan Pak?". Begitulah perkataan yang pernah diucapkan oleh seorang sopir taksi dalam suatu pembicaraan santai. Logika dan pertanyaan pembenar sopir taksi itu bisa dijawab benar dan tidak benar."

Kenyataan membuktikan semakin banyak jumlah kaum akademik yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmu atau gelarnya. Artinya ia menjalani pekerjaan yang semestinya tidak harus dilakukan setelah ia menyandang gelar akademik kebanggaannya. Ambillah contoh jika seorang sarjana pendidikan harus menjadi pedagang es keliling atau seorang sarjana hukum 'mencari' makan dengan menjadi pedagang beras kaki lima. Atau sarjana ekonomi menjadi seorang sopir taksi.

Tidak terdapat bentuk pelanggaran undang-undang apapun jika SPd menjadi penjual es keliling, jika SH menjadi penjual beras kaki lima, atau SE menjadi sopir taksi. Mengapa? Banyak alasan yang mendukungnya, antara lain: 1) mencari pekerjaan sama sulitnya dengan menahan godaan untuk mendapatkan tiket surga; 2) hukumnya halal secara juridis; 3) kebutuhan harian sesaat (short term survival) yang tidak bisa ditunda; 4) pandangan lingkungan yang miring jika sarjana nongkrong di rumah. Dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin akademik memang sudah menjadi bentuk pemakluman bersama. Persoalan akan muncul ketika pekerjaan tersebut hanya bisa memenuhi sebagian kecil dari motivasi bekerja, misalnya uang saja atau hanya bebas dari asumsi lingkungan yang tidak-tidak. Di sisi lain, menjadi pengalaman kesyukuran hidup ketika ketidakcocokan tersebut membawa anda ke dalam keadaan yang sesungguhnya menjadi kemujuran tak disengaja. Sudah menerima gaji tinggi, simbol status sosial membanggakan, kemudian seluruh potensi mendapat tempat pemberdayaan secara optimal, meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakang akademik anda.

Permasalahan timbul ketika individu yang melakoni pekerjaan yang tidak sesuai latar belakang akademiknya dengan motif keterpaksaan semata dalam upaya menghindar tekanan eksternal. Keterpaksaan inilah letak kesalahan yang sebenarnya, bukan bidang atau job title tertentu. Mengapa? Ketika motivasinya hanya terpaksa maka hidup tidak lagi berupa pilihan-pilihan untuk belajar berkembang melainkan kepastian dan kepasrahan. Padahal kepastian dan kepasrahan itu tidak memberinya banyak arti baik material dan non-material. Akan sangat berbeda jika pilihan diarahkan untuk belajar, berubah, dan berkembang.

Definisi Belajar

Salah satu iklan produk terkenal yang anda lihat kira-kira berbunyi, "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Anda pasti sudah memahami maksud tersiratnya. Tanpa harus anda ciptakan, masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa anda harus menciptakannya. Bagimana anda menciptakannya? Tidak lain hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.

Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi belajar bagi orang dewasa bisa anda jadikan rujukan, antara lain:

Reg Revans (Penggagas Action Learning)

Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans (1998) adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, "Learning is experiencing by exploration and discovery".

Bob Sadino
Dalam banyak wawancara yang dikutip oleh sejumlah media cetak, Bob Sadino, seorang pakar di bidang agrobisnis, seringkali melontarkan kata-kata pendek tetapi membutuhkan penjelasan yang tidak cukup dibeberkan dalam satu sessi seminar. Kata-kata itu tidak lain adalah: Cukup lakukan saja! Pernyataan tersebut mengandung makna yang dalam dimana belajar merupakan bentuk transformasi visi ke suatu tindakan lalu berakhir dengan achievement.

Charles Handy

Dalam bukunya Inside Organization (1999), Charles Handy mengemukakan bahwa siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan; dan terakhir refleksi – sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul di dalam diri. Thomas Edison, seorang penemu, adalah contoh paling reliable sepanjang zaman. Dikisahkan bahwa secara pendidikan formal akademik, Edison tergolong siswa yang tidak hebat tetapi ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengunjungi perpustakaan publik karena Edison menemukan sesuatu yang lebih bekerja terhadap hidupnya yang ia tidak dapatkan di bangku sekolah.

Dengan proses belajar di perpustakaan tersebut Edison menemukan pelajaran tentang relaksasi mental. Meski tidak seorang guru pun yang memahamkannya, tetapi naluri Edison tahu bahwa relaksasi mental lah yang membantunya menciptakan temuan-temuan yang tercatat lebih dari 1000 hak paten hingga ia wafat tahun 1931.

Alvin Toffler
Penulis buku terkenal ini mendifinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodologi baru, keahlian, sikap dan nilai.

Dari definis-definisi diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus. Lembaga sekolah, selain menciptakan birokrasi formal yang memberikan stigma bahwa sekolah adalah escalator tunggal yang mahal harganya, juga menunjukkan ketertinggalannya dengan kemajuan yang dicapai oleh dunia luar. Akibatnya timbul gap antara pendidikan dengan tuntutan atau kebutuhan yang ada di masyarakat. Hal inilah yang akhirnya menjadi dasar mengapa pengangguran tidak bisa dihindari lagi. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar. Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu adalah dengan melakukannya, seperti yang ditulis oleh Rex dan Carolyin Sikes: "We learn about a city from being there, not from a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes. Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements".